PSI Kota Bogor Gelar Bimtek: Bahas Fundraising, Pertanian Modern, hingga Penguatan DPC

Redaksi
9 Des 2025 12:17
4 menit membaca

BOGOR – Pelaksanaan Bimbingan Teknis PSI Kota Bogor digelar di Candali, Bogor, dengan partisipasi jajaran pengurus DPD, DPC dari seluruh kecamatan, dan anggota yang mengikuti rangkaian materi secara penuh, pada Minggu, 7 Desember 2025.

Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari berbagai bidang untuk memperkuat kapasitas kader serta mempersiapkan struktur organisasi dalam menghadapi dinamika politik dan sosial di tingkat lokal maupun nasional, pada Minggu, 7 Desember 2025.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi pembuka oleh Sekretaris DPD PSI Kota Bogor, Albert Roffy Aryus atau Bro Al.

Ia menegaskan pentingnya penguatan internal di setiap DPC dan meminta para pengurus kecamatan mulai memikirkan program berkelanjutan yang realistis dan dapat dijalankan di wilayah masing-masing.

Bro Al juga menyampaikan bahwa DPC diharapkan mulai mempersiapkan calon-calon yang berpotensi untuk didorong dalam kontestasi legislatif mendatang.

Menurutnya, penguatan struktur tidak bisa berdiri tanpa perencanaan program dan kesiapan kader, sehingga konsolidasi harus berjalan paralel dengan pembangunan basis dan pengembangan tokoh di tingkat bawah.

Sesi berikutnya disampaikan Bendahara DPD PSI Kota Bogor, Eva Tri Murni, yang mengulas secara rinci materi mengenai fundraising atau penggalangan dana partai.

Ia menjelaskan bahwa fundraising merupakan proses strategis untuk menghimpun dana dari berbagai sumber guna mendukung operasional, kampanye, kegiatan sosial, serta program internal partai.

Landasan hukum dari UU No. 2 Tahun 2008 hingga AD/ART PSI 2025 dipaparkan untuk memperjelas sumber pendanaan dan aturan penggunaan anggaran.

Eva menekankan sepuluh langkah persiapan penggalangan dana, termasuk perencanaan strategis, segmentasi donatur, diversifikasi sumber pemasukan, penggunaan media sosial, pelibatan relawan, serta kerja sama dengan sponsor.

Ia menambahkan bahwa target dana tahunan ditetapkan sebesar Rp500 juta dengan sistem evaluasi bulanan dan laporan keuangan transparan.

Bagi Eva, fundraising bukan hanya soal pengumpulan dana, namun juga membangun kepercayaan politik, profesionalisme kader, serta memperkuat hubungan partai dengan masyarakat.

Materi dilanjutkan oleh Tim Biro Pertanian yang memaparkan topik budidaya melon menggunakan metode greenhouse.

Penjelasan dimulai dari definisi rumah kaca, fungsi bahan transparan, pengaturan iklim mikro, serta perlindungan tanaman dari cuaca ekstrem dan hama. Peserta dibimbing memahami tahapan penyemaian, pemindahan bibit, pemasangan ajir, pemangkasan, pemberian nutrisi melalui sistem irigasi tetes, proses polinasi, hingga tahap panen yang biasanya berlangsung sekitar 45 hari setelah penyerbukan.

Selain itu, dijelaskan pula tahapan pembangunan greenhouse mulai dari perencanaan desain, persiapan pondasi, konstruksi rangka, pemasangan penutup, hingga instalasi sistem internal seperti ventilasi dan irigasi.

Materi ini diberikan sebagai panduan agar kader mampu mengembangkan praktik pertanian modern dalam skala komunitas maupun ekonomi keluarga.

Tim Biro Pertanian juga memberikan materi tambahan mengenai ketahanan pangan.

Fifik Hidayat dan Siti Aliyah menekankan bahwa dunia pertanian membutuhkan persiapan mental, konsistensi, serta kemampuan memahami tanaman sebagai makhluk hidup yang harus dirawat dengan baik. Mereka turut menjelaskan konsep “one home” sebagai metode awal budidaya skala kecil menggunakan 50 polybag.

Pemateri menekankan penggunaan sistem organik berbasis fermentasi kotoran hewan dan sampah organik, serta perlunya pencatatan keuangan yang rapi agar petani terhindar dari jeratan pembiayaan yang salah.

Materi tersebut dilengkapi dengan penjelasan potensi pertanian Indonesia yang memiliki tiga musim, jutaan hektare lahan tidur, dan sinar matahari berlimpah sepanjang tahun.

Tantangan seperti harga jual yang tidak stabil, ketergantungan pada tengkulak, rendahnya literasi keuangan, dan minimnya pemanfaatan teknologi turut menjadi bahan diskusi. Peserta juga diperkenalkan pada konsep siklus ekonomi petani serta sepuluh jenis bisnis turunan yang dapat dikembangkan dari sebuah kebun, mulai dari ekowisata, produk olahan, home industri, hingga usaha media tanam dan pelatihan.

Pada sesi berikutnya, Ronny Samual Sihombing membawakan materi mengenai analisis SWOT sebagai alat untuk memperjelas arah organisasi. Ia menguraikan visi-misi PSI yang menjunjung nilai antikorupsi, anti-intoleransi, solidaritas, serta perawatan keragaman. Ronny menjelaskan struktur organisasi partai mulai dari ketua, sekretaris, bendahara, hingga biro-biro tematik yang memiliki peran sebagai penggerak utama perencanaan dan eksekusi program.

Ia menegaskan pentingnya kerja berbasis data, konsistensi implementasi rencana, serta pengembangan kebiasaan positif sebagai bagian dari budaya organisasi yang sehat. Materi SWOT disorot sebagai alat penting untuk membaca kekuatan internal, kelemahan struktural, peluang eksternal, dan ancaman politik yang mungkin muncul.

Pada akhir kegiatan, Ketua DPD PSI Kota Bogor Sugeng Teguh Santoso memberikan arahan strategis kepada seluruh peserta. Ia menjabarkan agar seluruh aktivitas organisasi dilakukan secara transparan, termasuk pengelolaan pendanaan, demi membangun kepercayaan internal dan melahirkan tata kelola partai yang sehat. Sugeng meminta seluruh DPC menyusun program yang langsung menyasar masyarakat, berdampak nyata, terukur, serta konsisten dieksekusi.

Ia menegaskan bahwa DPC harus menjadi kanal pelayanan publik sekaligus basis konsolidasi yang kuat.

Sugeng menutup kegiatan dengan harapan agar Bimtek menjadi momentum memperkuat soliditas PSI Kota Bogor dalam menghadapi agenda politik ke depan, pada Minggu, 7 Desember 2025. //

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x