Menolak Punah : Ketika Suara Anak Muda Bersatu Dengan Semangat Laudato Si

Fardoari Reketno
24 Mei 2026 14:54
UMUM 0 46
2 menit membaca

PALANGKA RAYA– PMKRI Cabang Palangkaraya Sanctus Dionisius bersama BEM FISIP, BEM FKIP, serta Keluarga Mahasiswa Katolik Santo Thomas Aquinas UPR menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter “Menolak Punah” sebagai bentuk kolaborasi kepedulian mahasiswa terhadap persoalan lingkungan, khususnya meningkatnya krisis limbah di tengah masyarakat modern.

banner 325x300

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang edukasi dan refleksi kritis bagi mahasiswa mengenai dampak pola hidup konsumtif, terutama dalam industri fashion yang terus berkembang pesat tanpa memperhatikan dampak lingkungan dari limbah yang dihasilkan. Film “Menolak Punah” dinilai relevan dengan kondisi saat ini, di mana permasalahan sampah plastik dan limbah tekstil semakin meningkat dan mengancam keberlanjutan ekosistem serta kehidupan manusia di masa depan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami bahwa pakaian modern berbahan sintetis berpotensi menghasilkan mikroplastik yang dapat mencemari sungai dan laut, bahkan kembali masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan. Selain itu, penumpukan limbah tekstil yang sulit terurai serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.

Dalam diskusi yang berlangsung, pemantik menyampaikan bahwa minat mahasiswa terhadap isu lingkungan semakin meningkat, seiring dengan semakin nyata dampak krisis lingkungan seperti perubahan iklim, pencemaran, hingga meningkatnya bencana ekologis. Oleh karena itu, film ini dipilih sebagai media yang efektif untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa melalui pendekatan visual dan diskusi terbuka.

banner 325x300

Keempat organisasi mahasiswa ini mendorong lahirnya solusi konkret, seperti membangun budaya memilah sampah di lingkungan kampus, mengurangi penggunaan produk sekali pakai, meningkatkan kesadaran konsumsi pakaian secara bijak, serta memperkuat edukasi lingkungan di kalangan generasi muda. Mahasiswa juga diajak belajar dari negara seperti Jepang, Swedia, dan Korea Selatan yang telah berhasil mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis disiplin, daur ulang, dan energi.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya menjadi penonton krisis lingkungan, tetapi mampu menjadi agen perubahan yang aktif dalam menjaga keberlanjutan bumi.

Tambahan dari Keluarga Mahasiswa Katolik Santo Thomas Aquinas UPR:

“Merawat bumi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama sebagai generasi yang ingin menolak kepunahan.”//

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x